Sabtu, 29 April 2017

Supaya Sehat Jiwa Kita, Waspadai Bahaya Kecanduan Internet



Jika dihadapkan pada suatu kondisi, ketinggalan dompet atau gadget, apa yang kamu pilih?

Wah saya ngga nyangka, hampir semua orang lebih memilih ketinggalan dompet daripada gadget lho. Alasannya, sejauh ada kuota internet, cukup klik pesan ojek online maka dompet seketika akan sampai di tangan kita. Benar juga ya! hehehee…

Internet memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat jaman sekarang. Sampai-sampai ada pepatah “jaman sekarang mah bukan Harta, Tahta, Wanita lagi melainkan Harta, Tahta, Kuota”. Ajaib memang. Sebegitu kuatnya daya tarik internet membuat banyak dari kita yang tidak bisa hidup tanpa internet. Melalui internet kita bisa menemukan informasi yang kita cari. Melalui internet kita bisa mewujudkan apa yang kita inginkan. Bisa disimpulkan, internet merupakan tempat mendapatkan segala sesuatu secara instant.  

Fakta pengguna internet
Sebegitu mudahnya pencarian berbagai  informasi melalui internet membuat banyak orang yang betah berlama-lama menggunakan internet. Mulai dari anak-anak, remaja sampai orang dewasa dengan mudah berselancar di berbagai situs. Hal itu dibuktikan oleh Unicef. Tahun 2014, organisasi PBB yang berfokus pada anak dan remaja ini melakukan studi dan ditemukan bahwa 79,5 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak dan remaja berusia 10 – 19 tahun. Lebih dari 52 persen mereka menggunakan ponsel untuk mengakses internet, namun kurang dari 21 persen untuk smartphone dan 4 persen untuk tablet.

Yang lebih mencengangkan fakta yang didapat dari studi yang dilakukan Universitas Hongkong. Ditemukan bahwa enam persen dari populasi dunia atau lebih kurangnya sebanyak 420 juta orang kecanduan internet. Disimpulkan, dengan semakin berkembangnya teknologi, setiap tahun jumlah pengguna internet semakin meningkat. Woow!!!

Gejala Kecanduan Internet

Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, SpKJ

Kemudahan yang ditawarkan dalam internet membuat banyak pengguna internet menjadi adiksi alias kecanduan. Dalam acara Meet and Greet Blogger di Auditorium RSJ Dr. Soeharto Herdjan yang lebih kita kenal dengan nama rumah sakit jiwa grogol, Dr. dr. Suzy Yusna Dewi, SpKJ seorang psikiater  anak dan remaja mengatakan,

1.      Gejala adiksi internet tidak selalu terlihat pada awal pemeriksaan. Oleh karena itu klinisi perlu secara rutin untuk menilai kehadiran adiksi internet.
2.      Gejala adiksi internet yang paling umum adalah penderita menghabiskan waktu secara berlebihan untuk online.
3.      Gangguan tersebut mendesak penderita untuk menggunakan internet ketika offline dan secara signifikan mengalihkan waktu dan pikirannya.
4.      Pada saat penderita mulai untuk mengurangi pengaksesan internet, penderita tersebut akan merasa cemas, iritabel dan depresi.
5.      Ansietas dapat timbul sebelum mengakses internet dan hilang ketika berhasil mengakses internet.

Ciri-ciri kecanduan internet
Anak dan remaja yang kecanduan internet terlihat dari ciri-ciri sebagai berikut :

1.      Preokupasi terhadap internet

2.      Membutuhkan waktu online yang lebih lama (lebih dari 40 jam/bulan)

3.      Usaha yang berulang untuk mengurangi pengaksesan internet

4.      Reaksi penarikan ketika mengurangi pengaksesan internet

5.      Bermasalah dalam manajemen waktu

6.      Distress lingkungan baik dari keluarga, sekolah, pekerjaan, dan pertemanan

7.      Melakukan kebohongan mengenai waktu yang dihabiskan untuk online

8.      Modifikasi mood melalui pengaksesan internet

Menurut kuesioner diagnostic yang dilakukan oleh Young, bila ada lima point di atas saja yang bisa dipenuhi maka seseorang bisa dikategorikan sebagai pecandu internet. Nah, jadi sebaiknya kita mulai harus mewaspadai bila anak dan remaja kita lebih senang menghabiskan waktu untuk online ketimbang bersama teman atau keluarga ya.  


Dampak kecanduan internet
Dari perilaku di atas kita bisa melihat bahwa kecanduan pada internet mempunyai dampak yang dapat menganggu pekerjaan, pendidikan, keluarga dan interaksi social. Perlahan-lahan sikap mereka menjadi cuek dengan lingkungan dan tidak mempunyai tanggung jawab pribadi. Bila dia seorang pelajar, dampak yang terlihat ke depannya adalah prestasi yang semakin merosot. Bila terus berlanjut, bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi agresif dan bisa meningkatkan resiko kriminalitas.

Sayangnya, masih sedikit orang yang menganggap dirinya sudah masuk ke dalam kategori kecanduan sehingga hanya sedikit sekali yang mencari pengobatan ke tenaga kesehatan professional. Untuk itu antisipasi perlu dilakukan orang tua untuk disiplin mengawasi penggunaan dan membatasi waktu online.

Baru-baru ini melalui media social saya mendapat broadcast yang mengajak orang tua mau meluangkan waktu bersama keluarga dari jam 18.00 – 20.00 tanpa gadget. Jadi, bukan saja anak yang harus melepaskan gadget dari genggaman, tapi orang tua juga sama. Selama ‘family time’ tersebut, usahakan untuk melakukan berbagai aktivitas untuk meningkatkan kualitas hidup dengan saling bertukar cerita kejadian yang dialami seharian. Boleh juga ya tips ini dilakukan di rumah.

Kecanduan Pornografi
Menurut peneliti LIPI, Romi Satria Wahono (2016), setiap detiknya, terdapat 28.258 orang melihat situs porno dan 372 pengguna internet mencari konten pornografi. Hal tersebut bisa kita lihat dari perilaku online-nya dan dibagi menjadi lima kategori yaitu sebagai berikut :

1.      Cybersexual addiction yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situr sporno atau cybersex secara kompulsif.

2.      Cyber-relationship addiction yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber.

3.      Net compulsion yaitu seseorang yang terobsesi pada situs oerdagangan atau perjudian.

4.      Information overload yaitu seseorang yang menelusuri situs informasi secara kompulsif.

5.      Computer addiction yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan game online.


See, kita lihat ya, cybersexual addiction menempati urutan nomor satu. Mengerikan bukan, bila anak dan remaja kita di rumah menjadi salah satu pecandu internet sekaligus pecandu pornografi. Nah, ciri-cirinya apa aja yang perlu kita sebagai orang tua ketahui? Mari kita waspadai, bila anak dan remaja kita :

1.      Bila ditegur dan dibatasi menggunakan HP akan marah

2.      Mulai impulsive, berbohong dan emosinya naik

3.      Sulit berkonsentrasi

4.      Jika bicara menghindari kontak mata

5.      Menyalahkan orang

6.      Menutup diri

7.      Prestasi akademis menurun

8.      Hilang empati, apapun yang diminta harus diperoleh


Penggunaan internet secara terus menerus secara signifikan dipastikan akan berdampak pada hubungan social dan komunitasnya. Untuk itu perlunya sinergi mulai dari tingkat keluarga hingga pemerintahan untuk mencegah dampak bahaya kecanduan internet. Peran media massa untuk membantu menyiarkan berita yang bersifat positif juga diperlukan dan bisa dipertanggung jawabkan.

dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ

Urban Mental Health
Belum lama ini kita terkejut dengan ramainya live show adegan bunuh diri seorang lelaki melalui akun pribadi Facebooknya. Peristiwa tersebut jika menurut kacamata orang normal adalah perbuatan orang yang mentalnya terganggu. Tidak ada orang sehat yang mau melukai dirinya sendiri seperti itu, kan.

Ada lagi fenomena terkini yang baru-baru ini ramai sekali dibicarakan anak-anak saya. Eraser challenge, yaitu tantangan menggosok penghapus pensil di kulit lengan sekeras dan secepat mungkin. Hasil lecet akibat luka gesekan dipamerkan di media social dan semakin parah lukanya semakin keren.

Tantangan lain di internet yang marak terjadi sampai masuk ke pemberitaan televise adalah Skip challenge. Tantangannya adalah menekan dada ke tembok sekuat tenaga sampai tak sadarkan diri. Ada lagi choking challenge yaitu tantangan mencekik leher sampai tak sadarkan diri. Selain itu adalagi yang namanya cinnamon challenge yaitu tantangan menelan sesendok bubuk kayu manis tanpa dibantu air minum dan sack tapping yaitu tantangan memukul kemaluan teman lelaki dengan sekuat tenaga.

Di Indonesia keinginan memamerkan segala hal di akun media sosialnya merupakan tren seiring maraknya penggunaan internet di berbagai kalangan. Ditambah lagi dengan tekanan hidup di perkotaan seperti Jakarta seperti kesenjangan social ekonomi dan tidak bekerja menjadi penyebab stress dan depresi. Semakin tinggi tingkat stressnya semakin tinggi juga bahaya resiko bunuh diri.
Menurut narasumber kedua, dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, tahun 2007 ada sebanyak 14,1 persen orang atau 763 orang di Jakarta dikatakan menderita cemas dan depresi dibawah propinsi Jawa Barat yang menempati urutan pertama di angka 20 persen.

Tingginya angka tersebut membuatnya tidak bisa tinggal diam. Melalui perjuangannya di ruang rapat DPR bersama timnya, akhirnya pemerintah mengesahkan UU No. 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa. Dokter Nova yang juga Ketua Umum PDSKJII DKI Jakarta giat mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan jiwa terhadap tantangan urban mental health. Tentunya diharapkan dengan adanya edukasi mengenai kesehatan jiwa bisa meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat  khususnya di DKI Jakarta.


RSJ Dr. Soeharto Herdjan
Acara Meet and Greet Blogger yang berlangsung di auditorium RSJ Dr. Soeharto Herdjan merupakan rangkaian dari peringatan ulang tahunnya yang ke 150. Di acara ini kami para Blogger diajak melihat secara langsung kegiatan para rehabilitant atau pasien yang sudah berada di tahapan tidak menyakiti diri sendiri dan lingkungan dan rajin minum obat yang diberikan dokter. 




Ada tiga proses seleksi untuk bisa mengikuti program rehabilitasi agar mampu beradaptasi di tengah masyarakat, yaitu :

Level seleksi. Di level ini harus melalui screening dulu dari dokter umum, psikiater, perilaku socialnya gimana dan fisioterapi. Setelah lolos di tahap ini selanjutnya





Level aktivitas. Di level ini rehabilitant mengikuti program kegiatan sebanyak 20 kali pertemuan sesuai dengan minatnya. Dengan terapis terlatih para rehabilitant yang suka boga akan diarahkan membuat kue dan roti. Kebetulan ketika kami datang ke ruang kitchen, mereka baru saja belajar membuat roti. Dari mulai menakar resep, mengolah, baking selanjutnya menata di display mereka juga diajarkan untuk berwirausaha. Roti-roti yang mereka buat akan mereka jual di kalangan rumah sakit juga. Saya sempat membeli dua buah roti isi coklat yang tersisa.




Untuk yang suka music, kebetulan saat kami mengunjungi ruang music mereka sedang berlatih menyanyikan lagu kicir-kicir diiringi piano. Nantinya, mereka akan unjuk kebolehan setiap ada acara-acara istimewa. Kami juga mengunjungi ruang gallery dimana aneka lukisan kerajinan tangan dipamerkan di ruang ini. Bagus-bagus deh.

Nah, setelah lolos di level ini selanjutnya rehabilitant bisa pindah ke

Level Mandiri. Di level ini rehabilitant mengikuti program kegiatan sebanyak 60 kali pertemuan. Jika lulus rehabilitant dinyatakan mampu berada di lingkungan keluarganya.



Meski baru terbatas, keinginan rehabilitant untuk mengembangkan kemampuan diri sesuai minatnya didukung penuh oleh Rumah sakit Dr. Soeharto Herdjan. Untuk itu peran serta keluarga untuk tidak mengabaikan pasien penderita gangguan jiwa amat diharapkan. Mereka juga ingin sembuh. Jadi jangan pernah mendiskriminasikan mereka.






Jumat, 25 November 2016

Memilih Jenis Sarapan Seimbang Sebagai Bagian Dari Gaya Hidup Sehat




source : pixabay

Sarapan apa hari ini ya? Satu demi satu gambaran makanan sarapan pagi di perumahan saya pun muncul. Dari bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, ketoprak hingga gudek nangka. Iya, gudek nangka dengan sayur santan krecek yang kental itu. Hiiyy, aneh ya? 

Sabtu, 10 September 2016

Persiapan Untuk Sambut Si Buah Hati Bersama MRCCC Siloam Hospital dan Blibli.com





Setelah menikah, apa sih rencana pasutri berikutnya? Sebagian besar pasti menjawab, “punya anak dooong”. Betul sekali, anak merupakan anugerah yang paling ditunggu-tunggu pasangan suami istri di seluruh jaga raya. Sejatinya kehadiran anak bisa membawa kehangatan dalam rumah tangga dengan gelak tawanya. Namun, sebagaimana kita tau, punya anak itu sama sekali ngga mudah. Selain harus mempersiapkan fisik dan emosi juga harus mempersiapkan dana, ya kan?


Beruntung sekali saya dan teman-teman Blogger berkesempatan hadir dalam Talkshow Kesehatan dan Parenting di Conference Room Siloam Hospital Jakarta, 8 September 2016 lalu. Bertajuk “Be a Healthy Mom to be (Breastfeeding and Baby Blues) Talkshow yang diadakan komunitas Blibli Friends Meet Up menyoroti persiapan diri menjadi ibu oleh dokter-dokter spesialis MRCCC Siloam Hospital Semanggi Jakarta.




Persalinan Normal Versus Sesar
Sebagai narasumber pertama, Dr. Batara Sirait SPOG (K) FER memaparkan topic seru mengenai pro kontra persalinan normal dan sesar. Menurutnya, dari jauh-jauh hari seorang ibu hamil sebaiknya sudah harus mempersiapkan kelahirannya. Bukan persiapan barang apa aja yang dibawa saat ke rumah sakit untuk persalinan namun persiapan diri sejak kehamilan dinyatakan positif. Persiapan diri sendiri contohnya adalah rajin control ke dokter sesuai jadwal dan makan makanan bergizi.


Dokter Batara Sirait SPOG (K) FER

Sejalan dengan membesarnya kandungan, kebanyakan pasien yang datang di meja prakteknya merencanakan proses persalinannya dengan cara Sesar. Dokter yang berfokus pada program bayi tabung ini tidak menyalahkan. Karena, menurutnya, ada etnis tertentu yang masih mempercayai ‘timing’ yang berhubungan dengan keberuntungan dan nasib baik sang anak kelak.

Namun, sejatinya melahirkan dengan cara normal adalah pilihan terbaik kecuali ada kasus-kasus tertentu yang mengharuskan persalinan harus dengan cara Sesar. Kasus-kasus yang banyak terjadi adalah terlilitnya tali pusar, letak bayi melintang (sungsang) dan plasenta praveia (letak ari-ari berpindah). Terkadang berat bayi di atas rata-rata, normalnya kurang lebih 3 kilogram, untuk menghindari robekan vagina atau jebolnya rahim terpaksa harus menjalani tindakan operasi Sesar.


proses persalinan normal

Kelebihan bersalin dengan cara normal dibanding Sesar adalah proses pemulihannya yang cepat. Sebenarnya, sehari setelah melahirkan pasien yang melahirkan dengan cara normal sudah diperbolehkan pulang. Berbeda dengan persalinan Sesar, biasanya sehari setelah operasi pasien masih harus latihan miring kiri kanan dulu di tempat tidur. Pasalnya, rasa nyeri akibat proses anestesi di tulang punggung dan irisan Sesar di perut bawah sebanyak 7 lapis untuk mengeluarkan bayi akan dirasakan pasien setelah Sesar.

Memang masing-masing proses persalinan ada plus minusnya. Selain kelebihannya tadi, kekurangan bersalin dengan cara normal dibanding Sesar adalah waktu. Dijelaskannya, setiap pasien pembukaan jalan lahirnya berbeda-beda. Umumnya, kata Dokter Batara adalah 14 jam. Berbeda dengan Sesar yang direncanakan mau tanggal berapa, hari apa, jam berapa, proses persalinannya singkat sekali, hanya memakan waktu 5 – 10 menit. Jadi pasien tidak perlu mengejan sampai kehabisan energy seperti pada persalinan normal.

Namun yang terpenting, tindakan untuk menyelamatkan ibu dan bayi saat persalinan adalah yang terutama. Untuk pertamanya pasien dicoba untuk bersalin dengan cara normal. Jika kepayahan saat mengejan ditambah kontraksi yang terlalu lama akan diambil tindakan lain misalnya dengan cara Forcep (disedot dengan alat sejenis vakum). Namun jika masih ada kendala juga keputusan terakhir adalah Sesar.

Yang penting Ibu dan bayinya selamat ~ Dokter Batara SPOG (K) FER

Serba Serbi ASI



Narasumber ke dua Dokter Paulus Linardi SpA memaparkan materi mengenai ASI. Dokter yang juga tergabung dalam IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) yang juga giat mengkampanyekan ASI ini menjelaskan, masih banyak sekali mitos yang beredar di tengah masyarakat mengenai ASI. Contohnya, Kolostrum atau yang lebih dikenal dengan ‘susu basi’ konon harus dibuang. Padahal, kolostrum justru mempunyai banyak manfaat yang dibutuhkan bayi.



Dijelaskannya, kolostrum adalah cairan kental berwarna kekuningan yang keluar setelah persalinan. Setelah 5 – 14 hari cairan ASI berubah menjadi agak encer dan warnanya berubah dari kuning agak menjadi putih. Fase ini namanya ASI peralihan. Setelah fase ini, ASI disebut ASI mature dengan warna yang putih dan kental. Jadi, meski berbeda-beda tingkat kekentalan dan warnanya, ibu dianjurkan untuk tetap memberi ASI khususnya ASI ekslusif sampai 6 bulan. Ekslusif di sini maksudnya, tidak memberi makanan lain selain cairan ASI.


Kenapa begitu? Pada bayi baru lahir, ASI merupakan makanan terbaik di awal kehidupannya. Karena, fungsi saluran cernanya belum sempurna untuk diberikan makanan lain selain ASI. Disamping itu kebutuhan nutrisi dan kalori yang dibutuhkan bayi baru lahir cukup berasal dari ASI sehingga tidak dibutuhkan makanan lainnya. Selain itu WHO juga merekomendasikan  untuk memberikan ASI Ekslusif hingga usia 6 bulan




Pertanyaannya, kenapa harus ASI bukan Susu Formula? Dokter Paulus memaparkan isi kandungan nutrisi dalam ASI dan membandingkannya dengan susu sapi atau susu formula. Dijelaskannya, dalam ASI terkandung asam lemak essential alias lemak tak jenuh yang mudah diserap tubuh. Sementara dalam susu formula tidak ada asam lemak essentialnya. Asam lemak essential ini memproduksi enzim lipase dimana tugas enzim ini membantu proses penyerapan makanan. Itulah sebabnya, bayi yang diberi ASI akan lebih cepat lapar karena proses penyerapan makanannya berlangsung cepat.

Zat besi yang terkandung dalam ASI juga mudah diserap dikarenakan dibantu dengan enzim pencernaan sementara dalam susu formula kandungannya tinggi. Padahal, menurutnya, zat besi yang tinggi dalam sufor tidak berpengaruh apa-apa karena tidak bisa diserap. Sejatinya, zat besi yang diserap bayi hanya 10 persen saja.

Selain bermanfaat bagi bayi, ASI pun bermanfaat untuk ibu. Dengan menyusui, hisapan bayi merangsang pelepasan oksitosin sehingga mempercepat proses pengerutan uterus kembali seperti semula. Disamping itu, dengan memberi ASI pada bayi, pendarahan pasca persalinan dapat dicegah dan mengurangi anemia.


Keuntungan memberi ASI pada bayi menurut Dokter Paulus adalah adanya ikatan bonding (kasih sayang) antara ibu dan bayi. Dari beberapa penelitan, anak yang diberi ASI memiliki tingkat IQ di atas rata-rata dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Selain itu ASI juga mudah diberikan, bandingkan dengan pemberian sufor yang riskan steril dan tidaknya sehingga bayi jadi mudah terkena infeksi. ASI pun menghemat biaya karena anak yang diberi ASI lebih jarang sakit.

Dalam beberapa kasus terkadang ada faktor-faktor yang menyulitkan Ibu memberi ASI pada bayinya. Dokter Paulus menyarankan untuk tetap memberi ASI dengan bantuan selang atau sendok untuk menyuapi ASI pada bayinya. Pemberian lewat botol dan dot sama sekali tidak dianjurkan. Jangan mudah menyerah, sarannya.

Paket Kesehatan Online Blibli.com



Selain agenda Talkshow, demo memandikan bayi sekaligus diluncurkannya ruangan maternity Mother and Child Ward  dan VIP Ward di lantai 32-33  merupakan bentuk kerja sama Blibli.com dan MRCCC Siloam Hospital. Blibli.dom sebagai mal online pertama dan terbesar di Indonesia  menyediakan paket-paket kesehatan online sekaligus menjadi penyedia produk di ruangan Mother and Child Ward rumah sakit ini dengan cara pembayaran yang sangat mudah. Bisa dengan kartu kredit yang bisa dicicil 6 kali, debet, e-banking dan lain sebagainya. Jadi, urusan persiapan dana persalinan bukan hal yang jadi beban deh ya.

Bapak Lay Ridwan Gautama
Sebelum diajak mengunjungi ruangan maternity di lantai 32, Bapak Lay Ridwan Gautama, Head of Trade Partnership Blibli.com menjelaskan dengan singkat, “Produk kesehatan yang dijual Blibli.com yaitu CocoonaBaby Ergonomic Nest, Duux Air Purifier, Duux Baby Protector dan Aqua Scale 3 in 1 Baby Bath Tub. Produk-produk tersebut pun tersedia di ruangan maternity Mother and Child Ward dan VIP Ward ini.”



Selain menawarkan produk kesehatan, Blibli.com juga menawarkan paket kesehatan di MRCCC Siloam Hospital. Paket-paket kesehatan tersebut mencakup paket medical check-up dengan harga mulai dari Rp 1,3 juta , deteksi jantung mulai dari harga Rp 675 ribu dan paket persalinan mulai dari Rp 38,5 juta. Untuk lebih detilnya silakan kunjungi http://www.blibli.com/search?s=siloam











Selasa, 06 September 2016

Suara Tanpa Rokok, Untuk Kesehatan Dan Kesejahteraan Hidup






Almarhum Bapak saya perokok. Almarhum Mertua lelaki saya juga perokok. Bapak saya meninggal disebabkan paru-parunya hitam gosong akibat rokok. Mertua lelaki saya meninggal disebabkan kanker nasofaring atau kanker yang menyerang tenggorokannya juga akibat rokok. Ironis.

Saya takut. Saya takut suami saya seperti mereka, karena dia juga perokok sampai sekarang. Ada kemauannya untuk berhenti merokok tapi belum berhasil 100 persen. Alhamdulillah, bila dulu dia sanggup menghabiskan satu bungkus rokok dalam sehari, kini satu bungkus rokok sudah mampu dikurangi hingga 3 hari. Tapi, itu tetap bukan prestasi. No smoke is the best!

Ketiga lelaki dalam lingkaran hidup saya ini hanyalah secuil fakta yang ada. Data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) : Indonesia Report 2011 mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara dengan jumlah prevelensi rokok aktif tertinggi di dunia, sebanyak 67% lelaki dan 2,7% wanita merokok tembakau. Dari data tersebut, proporsi pria dewasa, anak muda lelaki dan perempuan yang menggunakan tembakau angkanya lebih tinggi daripada Negara berpendapatan menengah lainnya.

Yang menyedihkan, beberapa studi menunjukkan pria dewasa Indonesia mengkonsumsi rokok sejak kecil, rata-rata di usia 12 tahun. Fakta ini mengingatkan saya akan sosok bocah yang jadi tenar baru-baru lalu di berbagai pemberitaan karena hobby merokoknya yang luar biasa. Yang mengherankan, orang tuanya malah terkesan ‘mendukung’ setiap anaknya merengek dan menangis menagih sebatang rokok untuk dihisapnya. Ironis sekali.

Terus terang saya bingung mengapa orang masih aja mau merokok. Apa sih kerennya? Padahal dampak buruk rokok bagi kesehatan terus digemakan di berbagai lini. Mulai dari tulisan kalimat di bungkus rokok itu sendiri, berbagai pamflet yang tersebar di tempat umum hingga iklan tayangan masyarakat di televisi. Namun kenyataannya sampai sekarang belum adanya penurunan konsumsi rokok yang signifikan.

Bahaya penggunaan tembakau, rokok dan asap rokok
Diketahui asap tembakau mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Ratusan dintaranya beracun dan memiliki dampak negatif pada organ tubuh manusia. Asap tembakau juga berisi 69 bahan karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker. Artinya, cepat atau lambat orang yang menggunakan tembakau, rokok dan menghirup asap rokok beresiko 2,5 kali lipat untuk meninggal lebih cepat.




Penyebab paling umum kematian terkait asap rokok adalah :

1.       Penyakit jantung dan pecahnya pembuluh arteri yang menyebabkan Stroke.
2.       Penyakit iritasi hidung pada orang dewasa seperti kanker sinus hidung, faring dan laring.
3.       Infeksi saluran pernapasan seperti gejala penyakit pernapasan kronis, asma,batuk, TBC.
4.       Penyakit yang menyebabkan fungsi paru-paru terganggu seperti kanker paru-paru dan Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
5.       Pada wanita, efek reproduksinya jadi terganggu misalnya cacat janin atau kelahiran premature pada kehamilannya, kanker payudara dan sindrom kematian bayi mendadak.
6.       Untuk anak, pada beberapa studi menunjukkan keterkaitan paparan asap rokok dengan penyakit telinga tengah, ketidakmampuan belajar dan leukemia.

Upaya Pemerintah Untuk Mendukung Program Berhenti Merokok
Mengingat begitu seriusnya dampak rokok bagi kesehatan sehingga dapat menyebabkan turunnya kesejahteraan ekonomi rakyat maka pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan untuk mendukung program berhenti merokok dengan mengeluarkan :

·         Undang-undang Republik Indonesia No 36 tahun 2009 tentang kesehatan menyebutkan bahwa tembakau dan produk yang mengandung tembakau dianggap sebagai zat adiktif, dan akan diatur untuk melindungi kesehatan individu, keluarga, masyarakat serta lingkungan.

·         Pada 2014, pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan tentang tulisan peringatan kesehatan di kemasan produk rokok dan iklan-iklan rokok.

·         Pengembangan kebijakan kawasan tanpa rokok di tempat umum dan area kerja didukung juga dengan dikeluarkannya PERDA oleh beberapa pemerintah daerah di lingkungannya.


Selain upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah tersebut beruntung sekali saya bisa hadir dalam talkshow di Kemenkes Kuningan Jakarta Pusat pada 2 September 2016 lalu. Acara Kampanye Rokok Merusak Tubuhmu dengan Tagar #SuaraTanpaRokok dihadiri narasumber yang concern sekali pada bahaya rokok bagi kesehatan yaitu Bapak Ir. Doddy Izwardy, MA Direktur Gizi Masyarakat, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI dan DR Abdillah Ahsan M, Se Wakil Kepala Lembaga Demografis Universitas Indonesia. Dengan Moderator acara  mantan Putri Indonesia 2008 Zivanna Letisha Siregar pembahasan talkshow kali ini untuk membantu membatasi konsumsi rokok dan menyadarkan dampak tembakau bagi kesehatan dan ekonomi berdasarkan bukti-bukti ilmiah.

Menyikapi peraturan pemerintah tentang tulisan peringatan bahaya rokok yang hanya berlaku di kemasan rokok, dan tidak termasuk rokok elektrik Bapak Ir. Doddy Izwardy, MA menyampaikan dengan tegas, “penggantian rokok dalam bentuk apapun, seperti rokok elektrik tetap berbahaya bagi kesehatan.”

Menurutnya, yang paling penting adalah menghentikan kebiasaan merokok, karena meskipun kita mencari alternative-alternatif rokok jenis lain, rokok tetap memiliki kandungan zat adiktif yang sangat berbahaya bagi kesehatan.”

Suara Tanpa Rokok
Di kesempatan ini selain diskusi hangat tentang dampak rokok juga sekaligus meluncurkan iklan layanan masyarakat terbaru yang akan ditayangkan September ini. Iklan layanan masyarakat ini merupakan  kelanjutan dari insiatif pengendalian konsumsi rokok di Indonesia yang diluncurkan bulan Mei lalu, kampanye Suara Tanpa Rokok.

Kampanye ini merupakan implementasi dari kerjasama  Kementrian Kesehatan dan Ahli Kesehatan Masyarakat Dunia, Viral Strategis yang bertujuan untuk menaikkan kesadaran dan perhatian masarakat tentang bahaya merokok dan asap rokok. Diharapkan, dengan edukasi yang lebih baik tentang rokok ada kecenderungan untuk memilih kehidupan yang lebih sehat – seperti berhenti merokok – yang dapat memberi manfaat lebih untuk hidup mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai.

Mungkin masih lekat dalam ingatan kita, iklan tayangan di televisi bulan Oktober 2014 yang menampilkan Bapak Panjaitan. Kemudian di fase ke dua bulan Mei – Juni 2015 menampilkan tayangan iklan ibu Ike. Dan di fase ke tiga bulan September- Oktober 2015 menampilkan tayangan sosok Robby. Dan yang terbaru mulai di tayangkan pada bulan September 2016 ini menggambarkan dampak konsumsi rokok pada manusia seperti penyakit paru-paru, penyakit jantung, stroke dan kanker mulut. 

Iklan yang berdurasi 30 detik ini dimulai dengan adegan pembuka berupa siluet seorang pria perokok yang dilanjutkan dengan gambar jantung manusia yang berdetak cepat, paru-paru yang sehat berubah jadi hitam, kanker mulut, gigi membusuk, kanker tenggorokan dan penyumbatan arteri yang dapat menyebabkan stroke. Kemudian ditutup dengan tulisan himbauan bahaya rokok yang ada di kemasan rokok dan diakhiri dengan pesan Sayangi Tubuhmu – Berhentilah merokok.

Zivanna Letisha Siregar pun mengingatkan, “kampanye ini  dipromosikan dan disebarkan di Youtube, Twitter, Facebook dan Instagram melalui situs www.suaratanparokok.co.id untuk mencari tau kisah-kisah dampak rokok pada masyarakat. Di situs ini kita juga mencari tau tips berhenti merokok beserta daftar klinik berhenti merokok di www.suaratanparokok.co.id/berhenti.”

Dampak ekonomi bagi kesejahteraan rakyat
Berdasarkan riset Global Adult Tobacco Survey (GATS) : Indonesia report 2011 dijelaskan bahwa keluarga miskin di Indonesia menghabiskan hampir 12 persen pendapatannya untuk rokok. Survey yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 juga mengatakan hal sama. Rokok merupakan pengeluaran rumah tangga terbesar kedua setelah makanan. Hasil riset tersebut jelas menyimpulkan bahwa orang yang dikategorikan miskin ternyata banyak yang mengkonsumsi rokok.

Hasil riset tersebut didukung juga oleh temuan dari Bapak Soewarta Konsen seorang Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Kerugian total akibat konsumsi rokok selama 2013 mencapai Rp 378,75 trilyun. Jumlah tersebut berasar dari kerugian akibat membeli rokok Rp 138 trilyun, hilangnya produktivitas akibat sakit, disabilitas dan kematian premature di usia muda sebesar Rp 235,4 trilyun dan biaya berobat akibat penyakit terkait tembakau sebesar Rp 5,35 trilyun.

Bukti-bukti tersebut mencengangkan sekali mengingat besarnya pengeluaran Negara yang dihabiskan untuk mengobati penderita penyakit jantung dan kanker yang diketahui pemicunya adalah kebiasaan merokok. Artinya, dana kesehatan masyarakat seperti BPJS dari Pemerintah belum tepat sasaran.

Kesimpulannya, banyak bukti ilmiah menemukan bahwa tidak ada tingkat aman dari kebiasaan merokok. Namun masih banyak perokok yang tidak menyadari dan meremehkan bahaya merokok, padahal resiko menderita penyakit yang disebutkan tadi sebenarnya dapat dicegah.

Menyikapi hal ini pemerintah terus gencar melakukan berbagai kebijakan untuk menekan tingginya konsumer rokok. Yang terbaru wacana menaikkan pajak dengan jumlah total lebih dari 75% dari harga eceran rokok telah disiapkan supaya perokok jadi lebih cepat berhenti merokok. Ke depannya, alokasi dana peningkatan hasil pajak bisa digunakan untuk pembiayaan meningkatkan dana kesehatan dan program sosial pemerintah lainnya.